JEMBATAN MERAH


Jembatan Merah sungguh gagah berpagar gedung indah
Sepanjang hari yang melintasi silih berganti
Mengenang susah hati patah ingat jaman berpisah
Kekasih pergi sehingga kini belum kembali



Biar Jembatan Merah andainya patah
aku pun bersumpah
Akan kunanti dia di sini
bertemu lagi

(Jembatan Merah by Gesang)

Entah kenapa sudah beberapa hari ini lagu Jembatan Merah ciptaan Almarhum Gesang tersebut selalu terngiang-ngiang di telinga saya.

Lagu yang menurut saya sangat romantis, menceritakan keindahan Jembatan Merah dan sekelilingnya, dan kesetiaan seseorang menunggu kekasihnya yang telah pergi dan belum kembali. Terbayang sebuah kisah romantis dan keindahan yang termaktub dalam lirik lagu tersebut. Belum lagi melodinya yang indah dan lembut, sejenak membawa saya ke "dunia lain".

Entah dapat ilham dari mana sang maestro ini sampai bisa menciptakan lagu seindah ini. Mungkinkah pengalaman pribadi? Pernah ditinggal kekasihnya?


Namun sayangnya, sewaktu melihat wujud fisik jembatan merah di televisi, saya jadi merasa agak kecewa. Ternyata jembatan itu kini tidak lagi seindah yang diceritakan Gesang dalam lagunya. Mungkin orang-orang sudah terlalu tidak acuh terhadap jembatan yang legendaris ini.



Akhirnya, saya coba bertanya pada mbah Google, dan ternyata dia punya beberapa foto yang menarik tentang Jembatan Merah tempo doeloe.



Ini nih foto-foto Jembatan Merah yang saya dapat dari si Mbah Google..
:D




 
 
 
Bagus-bagus kan foto-fotonya Mbah Google?

Saya jadi penasaran, ada ga ya seniman kita dari 

generasi mendatang yang bisa jadi seorang maestro 
sehebat Gesang? 
Yang dapat menciptakan lagu-lagu
indah nan abadi?
Baca Selanjutnya

Aku Bisa Menulis :D





Masih ingat pelajaran mengarang waktu di SD?
Pelajaran Bahasa Indonesia biasanya ada pelajaran mengarangnya, bukan?

Kalau masih ingat, tentu kawan-kawan juga masih ingat bagaimana tahap-tahap dalam membuat sebuah cerita.

Pertama menentukan tema. Lalu menentukan fikiran pokok atau pokok fikiran untuk setiap paragraf. Kemudian mnembangkan tiap-tiap fikiran pokok tersebut menjadi kalimat pokok. Selanjutnya melengkapi tiap-tiap kalimat pokok tersebut dengan kalimat-kalimat penjelas hingga menjadi paragraf-paragraf.

Itu cara penulisan fisiknya.



Selain yang di atas, kita juga menentukan plot atau alur cerita, awalan cerita atau opening, puncak cerita atau klimaks, dan akhiran atau ending.

Ada lagi tidak?









Ribet?

Bisa jadi.. :D


Saya pun merasa demikian waktu mengikuti langkah-langkah di atas. 



Tapi kemudian waktu duduk di bangku SMU, saya nekat untuk menulis dengan tanpa menghiraukan langkah-langkah di atas. Hanya berpegang pada tema, saya langsung main tulis. Waktu itu saya berfikir, "Bodo amat lah.. Tulisan gw ini..  :P "

Tak lama kemudian, dari sebuah sobekan kertas yang saya temukan, saya pun tahu bahwa metode atau cara menulis yang saya gunakan itu adalah freestyle writing atau gaya menulis bebas. Penulis tidak lagi terpaku dengan langkah-langkah baku dalam metode penulisan yang sudah ada, tetapi penulis secara bebas mencurahkan segala sesuatu yang ada dengan apa adanya. Mengalir saja seperti air.

Yap!
Seperti itulah setiap kali saya menulis. Tidak lagi mengikuti kaidah-kaidah menyusun suatu karangan seperti yang diajarkan guru-guru saya dulu. Namun, tentu saja dalam setiap kali selesai menulis saya selalu menyempatkan diri untuk mengedit tulisan saya. Menempatkan ulang kata-kata dan kalimat-kalimat agar lebih sesuai.

Kalau kawan-kawan sendiri bagaimana???


Baca Selanjutnya

SAWAH

Minggu lalu, saat saya masih berada di kampung, saya menyempatkan diri untuk ke sawah yang ada di sisi barat daya kampung saya. Bukan untuk menggarap sawah, tetapi untuk menenangkan diri sambil menikmati pemandangan yang ada.

Iseng-iseng saya bidik beberapa sudut dengan kamera di N73 saya. Dapat juga gambar yang menurut saya ga terlalu jelek. Tapi sayangnya saya tak bisa ngambil gambar sunset di sawah. Soalnya mendung waktu sore.. 



irigasi kering 




sebatang kara


habis digaru



Saya harap, nanti klo balik lagi ke kampung, saya juga bisa ambil gambar burung-burung kuntul..
Baca Selanjutnya

UNTUK APA MENULIS DI BLOG???

Untuk apa menulis di blog??
Sekarang orang-orang lebih suka menulis status di facebook, twitter, dan sejenisnya.. Mereka pun lebih suka mengomentari status teman-temannya daripada artikel di blog..

Kira-kira seperti itulah bunyi sepotong artikel yang saya baca di sebuah blog..

Jadi untuk apa menulis di blog??

Ketika hal ini saya tanyakan pada diri saya sendiri, saya pun sempat ragu menjawabnya.. Untuk apa ya??

Kemudian saya teringat beberapa blog yang dulu pernah saya buat dan tak pernah saya buka lagi.. Kalau tidak salah blog saya yang pertama, yang saya buat di Blogger, hanya berisi satu buah artikel. Yang kedua, yang juga saya buat di Blogger, hanya berisi dua buah artikel. Dan dua buah blog yang saya buat di Wordpress sepertinya masing-masing hanya berisi beberapa patah kata saja..
XD

Akhirnya, saya pun teringat tujuan saya menulis di blog. Saya menulis di blog karena memang saya ingin menulis, karena saya ingin mencurahkan apa-apa yang ada difikiran saya. Tak peduli apakah ada yang komen atau tidak.

Sebagai penulis, tentunya saya ingin tulisan saya dibaca oleh orang lain. Tetapi sebenarnya itu bukan tujuan utama saya dalam menulis. Tujuan utama saya (seperti yang saya tulis diatas) adalah mencurahkan apa-apa yang ada dalam fikiran saya dalam bentuk tulisan. Dan hal ini adalah suatu kebutuhan buat saya, seperti halnya saya membuang ampas makanan sisa hasil pencernaan perut saya di setiap hari..
:D

Nah, itulah mengapa saya menulis di blog..
Kalau ada penulis blog yang lain, yang kebetulan membaca artikel saya ini, kira-kira untuk apa anda menulis di blog anda??
Baca Selanjutnya

MENIKMATI PERJALANAN

Ketika saya masih duduk di bangku SLTP dan aktif sebagai seorang pramuka penggalang, kegiatan yang paling saya senangi adalah jelajah alam. Bukan hanya karena "jalan-jalan" dan mencari petunjuk arah, tapi juga karena saya merasa damai, merasa bebas, dan merasa sangat senang berada di alam  bebas. saya bisa melihat banyak pohon, burung-burung, rerumputan, sungai, lembah, gunung, langit, dan semua yang membuat saya merasa sangat bahagia. Saya sangat menikmati perjalanan itu.

Yap!!
Pemandangan alam yang indah dan segarnya udara alam bebas yang saya dapatkan selama perjalanan dalam kegiatan jelajah alam itu membuat saya merasa senang.

Sekarang, sekitar 13 sampai 15 tahun kemudian, saya berfikir, bagai mana orang-orang di jaman dulu menikmati perjalanan mereka??

Saya berfikir, di jaman dahulu sebelum kendaraan ditemukan, manusia masih sedikit jumlahnya, dan alam sekitar masih berupa hutan belantara, orang-orang bepergian dengan berjalan kaki. Mengalami pengalaman yang setidaknya mirip dengan pengalaman saya dalam kegiatan jelajah alam dulu. Mereka melihat pemandangan indah, menghirup udara segar, merasa letih, senang, dan mendapatkan banyak hal selama dalam perjalanan untuk diceritakan sesampainya di tujuan.

Lalu, saat kuda dan gerobak ditemukan.. 

Orang-orang mulai beralih menaiki kendaraan tersebut. Manusia semakin banyak, perkampungan semakin luas, hutan pun berkurang. Dalam perjalanan orang-orang sudah tidak merasa terlalu lelah. Mereka masih bisa menikmati alam sekitar yang masih asri, indah, dan menyejukkan hati. Mereka masih bisa mendapatkan banyak hal yang bisa diceritakan sesampainya di tempat tujuan.. Tentu tidak sebanyak dengan para pejalan kaki, karena mungkin perjalanan mereka lebih cepat dari para pejalan kaki, sehingga yang mereka lihat di jalan lebih sedikit dari pada para pejalan kaki..

Kemudian, saat kendaraan bermotor ditemukan..
Manusia sudah semakin banyak. Hutan sudah banyak yang berkurang, karena digunakan sebagai lahan pertanian, perumahan, bisnis, dan jalan raya.. Orang-orang semakin mendambakan kecepatan dalam perjalanannya. Mereka mulai tidak terlalu peduli dengan pemandangan alam di sekitarnya saat dalam perjalanan. Yang penting, cepat sampai di tujuan. Meskipun tidak semua orang seperti itu. Banyak juga yang masih mengharapkan pemandangan indah di sepanjang perjalanannya. Tapi yang jelas, mereka tidak akan mendapatkan sensasi keindahan alam seperti yang didapatkan para pejalan kaki. Mereka juga tidak mengalami keletihan yang sama dengan para pejalan kaki. Dan pastinya, hal yang dapat mereka ceritakan sesampainya di tempat tujuan, tidak akan seseru dan sekomplit yang diceritakan para pejalan kaki..

Saat orang-orang lazim naik pesawat..
Waktu tempuh yang dulu hingga berbulan-bulan, kini berubah jadi hitungan jam. Bahkan menit!! Manusia semakin banyak dan tak terkontrol. Dunia semakin sesak. Alam semakin gersang. Hutan mulai habis. Keindahan mulai pudar.. Orang sudah tidak peduli dengan pemandangan alam yang didapatnya selama perjalanan. Yang penting, cepat sampai tujuan!! Cerita apa yang mereka dapat dari perjalanan mereka???

Kemudian teleportasi pun digunakan..
Saat ini, orang-orang benar-benar sudah tak peduli lagi dengan perjalanannya. Dengan menggunakan sistem teleportasi, manusia bisa memindahkan diri kemana saja dengan sekejap. Atau bisa juga memakai pintu kemana saja-nya Doraemon. Atau pakai pintu seperti di film Stargate. Tak ada yang peduli lagi dengan perjalanan itu sendiri.
Dan karena dunia sudah sedemikian sesaknya, maka setiap orang punya pintu ke mana saja-nya masing-masing. Jadi jika saat ini saya sedang menulis blog dan kemudian mau makan, saya tinggal menyetel pintu kemana saja saya ke warteg. Dan mungkin, yang melayani saya adalah sebuah robot, karena yang punya warteg sedang nongkrong di toiletnya di tegal. Dia kesana pake pintu kemana saja, dua detik yang lalu. Dan satu detik lebih  sembilan per sepuluh detik yang lalu dia sudah ada di dalam toiletnya..

dan pada saat itulah perjalanan sudah tak lagi mempunyai arti..
Baca Selanjutnya

MISTERI SEBUAH PETI MILIK ISTRI SANG SAUDAGAR



Malik adalah seorang saudagar kaya. Usianya memang sudah tidak muda lagi, namun tidak juga bisa dibilang tua. Enam bulan lalu dia baru saja menikahi seorang gadis yang masih muda dan sangat cantik. Hanya beberapa hari setelah menikah, dia meninggalkan istrinya di rumah untuk berdagang di negara tetangga. Saat ini malik baru saja pulang dari perjalanannya. Dia berdagang beraneka rupa rempah-rempah ke negeri tetangga. Sudah beberapa bulan perjalanan dagang, dia baru kembali lagi ke rumahnya.


Tapi apa yang didapati di rumahnya membuatnya gundah. Tersiar kabar bahwa selama dia pergi, istrinya telah berselingkuh dengan seorang lelaki. Desas-desus mengatakan, istrinya sering menyendiri di dalam sebuah kamar di sudut rumahnya. Katanya, dia tidak benar-benar sendiri di ruangan itu, tetapi bersama dengan seorang lelaki yang jauh lebih tampan, lebih gagah, dan lebih muda dari pada malik, yang diam-diam dibawanya masuk tanpa seijin suaminya. Sewaktu suaminya pulang pun dia masih berada di dalam kamar itu.

Namun, saat Malik masuk kedalam kamar itu, didapatinya istrinya duduk di sisi tempat tidur dengan sebuah peti berukuran besar berada di sudut ruangan. Sebuah peti misterius. Peti yang indah dengan ukiran bunga teratai pada sisi-sisinya. Peti yang belum pernah dilihatnya kini ada di dalam rumahnya. Sebuah peti yang cukup besar untuk menyembunyikan seorang lelaki.

Orang-orang berfikir, di dalam peti itulah istrinya menyembunyikan lelaki selingkuhannya.

"Apa yang tengah kau lakukan di sini, wahai istriku??" tanya malik.

"Aku menunggumu, wahai suamiku.." jawab istrinya lembut.

"Mengapa tidak di kamar yang biasa kita tempati saja?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku mendengar kabar yang membuatku merasa tidak enak saat aku pulang tadi.."

"Bahwa aku menyembunyikan lelaki di ruangan ini?? Bahwa aku sering berbuat mesum di ruangan ini??"

"Iya.." jawab malik dengan gundah. "Sebenarnya apa yang selalu kau lakukan di dalam kamar ini selama aku pergi??"

"Aku menyulam kain untukmu."

Malik mendekati peti besar di sudut kamar itu dan bermaksud untuk membuka peti misterius tersebut, namun segera dicegah oleh istrinya yang tampak mulai gelisah..

"Jangan kau buka peti itu, suamiku. Peti itu berisi sulaman yang belum selesai kukerjakan.."

"Kenapa aku tak boleh membukanya?? Jika hanya sulaman yang belum jadi, bukankah itu bukan suatu masalah jika aku melihatnya???"

"Tapi itu sama artinya engkau meragukan kesetiaanku selama ini, wahai suamiku.. Apakah engkau juga mencurigai aku berselingkuh?? Apakah engkau sudah tidak lagi yakin dengan kesetiaanku selama ini?? Apakah engkau juga berfikiran sama dengan mereka yang telah mencurigaiku berzina??"

Para pelayan yang menguping pembicaraan mereka mulai berbisik-bisik dan yakin bahwa di dalam peti misterius itu benar-benar ada seorang lelaki yang tengah bersembunyi. Lelaki yang selama ini menjadi rekan selingkuh istri malik.

Malik hanya terdiam.. Tak lama kemudian dia berkata pada istrinya,"bersediakah engkau membuatkanku sulaman yang baru??? Aku tidak ingin kau melanjutkan sulamanmu yang belum jadi ini.."

"Baiklah.. Aku bersedia.."  jawab istrinya.

Kemudian Malik memerintahkan beberapa pelayannya untuk mengikat dan mengunci rapat-rapat peti itu. Kemudian dikuburnya peti misterius itu dalam-dalam di halaman belakang rumahnya.

Lama-kelamaan, desas-desus itu pun mulai hilang. Orang-orang sudah tidak lagi membicarakan masalah itu. Bahkan mereka pun sudah lupa dengan peti misterius yang telah dikubur di belakang rumah Malik. Dan kehidupan rumah tangga Malik pun kembali seperti sedia kala..


*)Note : cerita ini saya sadur berdasarkan ingatan saya, dari salah satu cerita sufi yang pernah saya baca..
Baca Selanjutnya




Stats


Google PageRank Checker