Bengkak,..



Suatu hari Tom mendatangi dokter spesialis kelamin untuk berkonsultasi.

"Dok, saya ada masalah.. Tapi dokter jangan ketawa, ya??" kata si Tom.

"Saya tidak akan tertawa. Itu melanggar kode etik saya sebagai dokter." kata sang dokter.

Tom kemudian  langsung menurunkan celananya, dan terlihatlah kelaminnya yang berukuran sangat kecil, sebesar penghapus pada pensil 2B.

Melihat itu, sang dokter tak kuasa menahan tawa dan tertawa terbahak - bahak sampai bergulingan di lantai.

Lima menit kemudian si dokter dapat menguasai diri. "Maaf saya tadi kelepasan, tapi saya janji saya tak akan mengulanginya.. Sekarang, katakan keluhan anda.." kata sang dokter.

Dengan wajah begitu sedih, si Tom berkata, " Sudah tiga hari, dok.. Bengkaknya ga ilang-ilang..."
Baca Selanjutnya

Kala Mengemis Dijadikan Sebagai Profesi



"Tu orang emang ga tau bersyukur kali, ya??" kata tukang sampah yang biasa mengambil sampah di toko saya.



"Emangnya kenapa, boss??" tanya saya.


"Sehari ngemis dapet lapan puluh rebu, masih aja ngedumel.. 'Sama aja kaga dapet duit klo cuman segini, mah..', katanya." lanjut si bapak tukang sampah.


"Buseeet... Lapan puluh rebu mah gede itu, boss..  Gaji pokok gw sehari aja kalah." timpal saya.


"Iya.. Emang ga tau bersyukur tu orang. Katanya seh emang biasanya paling dikit dapet dua ratus rebu sehari." kata bapak tukang sampah lagi.


Dan saya pun hanya bisa bengong...


Dua ratus ribu rupiah per hari?? Kalo sebulan tiga puluh hari, berarti dia dapet enam juta rupiah dalam sebulan!!
Cuma ngemis doank!!


Padahal yang ngasih sedekah ke pengemis itu rata-rata hanyalah para pekerja pabrik yang gajnya diantara satu sampai dua jutaan..
Parah banget tuch!!  Lebih kaya yang minta-minta daripada yang ngasih.


Kalo sudah sekian lama ngemis, berarti sekarang dia harusnya udah jadi orang kaya, donk.. Tapi kok masih ngemis??


Sewaktu saya ceritakan hal itu kepada seorang kawan saya, dia malah tertawa.


"Yang kayak gitu mah udah biasa di sini, mas.. Klo mas lihat pengemis yang di dekat rel sana, yang kakinya buntung, dia sebenernya dah kaya itu..  Tiap hari dia diantar jemput pake mobil pribadi..  Mobilnya sendiri!!  Udah gitu kontrakannya juga udah banyak.. Hasil ngemis dia selama ini.." katanya.


"Lho??  Sudah punya mobil dan banyak kontrakan kok masih ngemis aja??"


"Ya namanya sudah jadi kebiasaan, mas.. Duit didapet ga pake ribet.. Banyak lagi dapetnya!!  Sapa yang ga ketagihan??"


Saya hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita kawan saya itu.
Kok tega-teganya ya mereka?? Mengkhianati kepercayaan dan niat orang lain untuk beribadah!! Merebut rezeki mereka yang sebenarnya benar-benar membutuhkan!!
Ini jelas-jelas merupakan penipuan berkedok pengemis!!



Karena hal inilah saya jadi males banget bersedekah klo ada pengemis datang ke tempat saya di sini.. Apalagi pengemis musiman yang hanya ada klo tiap hari jumat aja di masjid dekat tempat saya.. Lebih baik uangnya saya masukin kotak amal..  Lebih jelas kegunaannya..


Saran saya, lebih berhati-hati lagi dalam bersedekah.. Jangan sampai niat baik kita jadi pupuk penyubur sifat malas mereka.


Akhirnya saya pun bisa "sedikit memaklumi" mengapa para pejabat di atas sana banyak yang mengkhianati niat baik para pembayar pajak..  Lha orang sedekah yang kelas lima ratus dan seribu rupiah aja banyak diselewengkan oleh oknum pengemis sehingga tidak sampai kepada yang berhak, apalagi pajak yang nilainya milyaran atau bahkan triliunan??


Meskipun ga semua pengemis adalah pemalas atau penipu, meskipun tidak semua pejabat adalah koruptor, tetapi jumlah mereka yang mengkhianati kepercayaan masyarakat jauh lebih banyak daripada yang jujur..


Dasar mental pemalas!! Dasar mental maling!!
Ga pejabat, ga pengemis, semua sama aja!!
@$#&^%*&#$^%^$$!!!!!
Baca Selanjutnya

Tentang Asa





Tumapel (Singhasari)
Abad ke-13


Pada tahun 1220-an Masehi, Prabu Kertajaya dari kerajaan Kadiri sedang berperang meredakan pemberontakan kerajaan Tumapel yang dipimpin oleh
Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi (Ken Angrok) yang didukung oleh para brahmana.


Sebuah urutan peristiwa menarik terjadi  dalam peperangan tersebut. Prabu Kertajaya, yang memiliki prajurit lebih banyak dan peralatan perang lebih lengkap, sesumbar tidak takut kepada Ken Angrok. Bahkan dia bersumpah bahwa dirinya hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Mendengar sumpah itu, Ken Angrok pun segera memakai gelar Bhatara Siwa dan dibai'at oleh para brahmana melalui upacara sebagai titisan Bhatara Siwa. Padahal sebelumnya Ken Angrok diyakini sebagai titisan Bhatara Wisnu oleh seorang brahmana dari India yang bernama Lohgawe. Dan pada akhir peperangan, pasukan kerajaan Kadiri yang lebih besar pun dapat dikalahkan, dan Prabu Kertajaya "naik ke alam para dewa".


Jadi mana yang benar?? Ken Angrok itu titisan Bhatara Wisnu atau Bhatara Siwa??


Yang mana pun yang benar, yang jelas Ken Angrok telah memakai gelar Bhatara Siwa dan telah berhasil memenuhi sumpah Prabu Kertajaya dan "mengirimnya ke alam para dewa".




Yunani
Jaman Dulu Banget.



Sekitar 7 atau 8 abad sebelum Masehi, disuatu tempat di wilayah Yunani, ada sebuah simpul tali yang teramat rumit dan melegenda. Simpul Gordius namanya. Tersebar cerita bahwa siapa saja yang dapat mengurai simpul tali tersebut, dia akan menjadi raja yang besar, raja terbesar yang pernah ada di dunia.


Empat ratus tahun lamanya, beribu-ribu orang mencoba, tapi tak satu pun yang mampu mengurainya.
Hingga suatu hari datanglah seorang raja muda dari Macedonia, Alexander namanya.
Dihampirinya simpul tersebut. Dan tanpa berfikir panjang, ditebasnya simpul itu dengan pedangnya. Dan terburailah tali simpul tersebut. Terpotong-potong dalam satu tebasan.


Simpul Gordius yang selama 400 tahun melegenda akhirnya terurai oleh satu tebasan pedang..


Dan apakah cerita legenda itu terwujud?? Apakah sang pengurai simpul Gordius tersebut akhirnya menjadi raja terbesar yang pernah ada??


Jawabannya adalah "iya"!!


Alexander menjadi seorang Senopati (Panglima Perang) yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran, meskipun seringkali jumlah pasukan musuhnya jauh lebih banyak dari jumlah pasukannya. Dan dia berhasil mendirikan sebuah imperium raksasa yang membentang dari Eropa, Afrika Utara, hingga Asia Tengah dan Selatan. Kerajaan dengan kekuasaan terluas yang pernah tercatat dalam sejarah.




Di Salah Satu Sudut Kota Jababeka  (Bekasi)
Hari Sabtu Di Bulan Mei

Saya masih terbengong-bengong mendalami kedua cerita di atas.



Setelah membaca cerita tentang pemberontakan Ken Angrok, saya berfikir pakah jika Ken Angrok tidak memakai gelar Bhatara Siwa, tidak dapat mengalahkan Prabu Kertajaya dari Kadiri??
Dan apakah benar sumpah Prabu kertajaya bahwa dia hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa??


Saya berfikir bahwa sumpah yang diucapkan Prabu Kertajaya hanyalah semacam intimidasi mental atas para pemberontak dari Tumapel. Bisa juga sebagai motivasi para prajurit Kadiri yang bertempur, agar mereka yakin bahwa mereka tak mungkin dapat dikalahkan para pemberontak dari Tumapel. Jika sumpah itu memang benar, tidak mungkin Prabu Kertajaya dapat dikalahkan oleh Ken Angrok, karena Prabu Kertajaya hanya bisa dikalahkan oleh Bhatara Siwa, sedangkan waktu itu Ken Angrok dipercaya sebagian orang sebagai titisan Bhatara Wisnu.


Tetapi dengan memakai gelar Bhatara Siwa, secara tak langsung Ken Angrok sendiri melakukan pembenaran atas sumpah musuhnya tersebut. Dengan dibai'at para brahmana melalui suatu upacara, Ken Angrok
ditetapkan sebgai titisan Bhatara Siwa. Hal ini juga membuat saya berfikir bahwa ini hanyalah suatu intimidasi mental balasan kepada Prabu Kertajaya dan para prajuritnya, sekaligus menaikkan semangat perang para prajurit pemberontak dari Tumapel.


Hasilnya??


Senjata makan tuan!!
Prabu Kertajaya termakan sumpahnya sendiri.


Tetapi apakah hanya karena adanya sumpah dan gelar yang membawa kesuksesan Ken Angrok??


Saya rasa tidak. Saya sangat yakin sekali bahwan Ken Angrok adalah seorang yang ahli dalam strategi perang. Dia bisa mengalahkan pasukan Kadiri yang lebih banyak dan lebih lengkap senjatanya.
Dia bisa menghentkan hegemoni kekuasaan keturunan Kerajaan Medang (Mataram Kuno / wangsa Syailendra, wangsa Sanjaya, wangsa Isnaya) yang sejak awal berkuasa di tanah Jawa, dan kemudian mendirikan dinasti baru yaitu wangsa Rajasa (Tumapel/Singhasari), dan wangsa Wardana (Majapahit).


Tetapi harus diakui bahwa sumpah Prabu Kertajaya dan gelar Bhatara Siwa yang disandang Ken Angrok memang sangat berpengaruh dalam mengobarkan semangat tempur para prajurit Kadiri maupun Tumapel.
Dengan semangat tempur dan keyakinan bahwa rajanya adalah benar-benar titisan Bhatara Siwa, maka prajurit Tumapel yang jumlahnya dan perlengkapannya lebih sedikit dapat menggulung habis para prajurit Kadiri yang sudah terkenal kehebatannya sejak jaman Prabu Jayabhaya itu. Meskipun mungkin mereka sebelumnya sempat merasa kecut nyalinya karena sumpah yang diucapkan Prabu Kertajaya.


Itulah kekuatan dari sebuah motivasi (penyemangat) yang berbuah keyakinan dan asa (harapan) untuk menang, yang dapat membolak-balikkan keadaan. Yang dapat membuat sesuatu hal yang terlihat tidak mungkin menjadi mungkin, yang terlihat mustahil menjadi nyata dan benar-benar terjadi..


Lalu saat membaca cerita kedua, tentang Alexander yang agung, saya pun tidak kalah takjub dengan kekuatan semangat dan motivasi yang didapat Alexander dari keberhasilannya mengurai simpul Gordius.
Dengan motivasi, kecerdikan, dan keahliannya dalam strategi militer, perang, dan politik, dia mampu membuat imperium terbsar dalam sejarah di usia yang masih muda.. Dibawah 30 tahun!!


Dan harus diakui, Alexander adalah salah satu (kalau bukan satu-satunya!!) senopati yang tidak pernah kalah dalam semua pertempuran yang dialaminya, walau pun jumlah pasukan musuhnya seringkali jauh lebih besar dari pasukannya. Semangat tempur dan strategi perang yang hebat adalah senjata utamanya dalam menakukkan kerajaan-kerajaan bawahannya.


Dan satu lagi yang membuat saya kagum atas kedua tokoh sejarah tersebut adalah cara berfikir mereka yang lateral (di luar kebiasaan) dalam mengambil keputusan.


Saat mendengar sumpah Prabu Kertajaya, dengan entengnya Ken Angrok mengangkat diri sebagai titisan Bhatara Siwa dan memakai gelarnya.
Jika saya adalah Ken Angrok pada waktu itu, mungkin yang akan saya lakukan adalah berpesan kepada prajurit-prajurit saya agar tidak termakan sumpah ngibulnya Prabu Kertajaya. Saya akan meyakinkan para prajurit bahwa Prabu Kertajaya adalah manusia biasa yang dapat dikalahkan siapa saja.


Tetapi langkah yang di luar pemikiran biasa yang diambil oleh ken Angrok. Sumpah Prabu Kertajaya yang seharusnya melemahkan mental para prajuritnya malah dibenarkan dan dibalikkan menjadi pengobar semangat prajurit Tumapel.


Sedangkan Alexander saat melihat rumitnya simpul tali Gordius, dengan santainya dia menebas simpul itu hingga terburai.
Padahal selama 400 tahun banyak orang dengan susah payah mencari celah dengan marunut ujung-ujung simpul tersebut, menarik dan mengulurnya, memutar-mutarnya, dan berbagai cara "konvensional" telah banyak dilakukan.


Tetapi nampaknya bagi Alexander tidak masalah bagaimana simpul itu terurai. Kalau bisa pakai cara mudah, kenapa harus pakai cara yang sulit??
Tebas saja pakai pedang!! Terburailah simpul tersebut!!


Sebuah pemikiran yang sederhana, tetapi di luar cara berfikir orang kebanyakan..


Kecerdasan dan kejelian dalam mengambil keputusan yang dimiliki Ken Angrok dan Alexander itulah yang membuat saya masih terbengong-bengong sambil mengetik artikel ini..


Kalau saja para pemimpin kita sekarang punya semangat, kecerdasan, dan keberanian seperti mereka, kira-kira seperti apa ya negara kita sepuluh tahun lagi??
Baca Selanjutnya




Stats


Google PageRank Checker