Kebijaksanaan Nabi Sulaiman AS

Ini adalah sebuah cerita klasik yang terjadi pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman AS (Raja Solomon) atas Bani Israel.

Di suatu hari yang cerah, dua orang ibu muda sedang bekerja di kebun mereka. Mereka bernama Paijem (bukan nama sebenarnya!!) dan Painem (juga bukan nama sebenarnya!!). Mereka sedang asyik memanen Zaitun sambil mengobrol. Sementara kedua anak mereka yang masih bayi mereka letakkan di sebuah pohon yang rindang di tepi ladang.

Alangkah terkejutnya mereka ketika sedang asyiknya bekerja dan mengobrol, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi yang teramat kencang dari arah kedua balita mereka. Kedua ibu yang sangat khawatir dengan keadaan anaknya ini langsung meninggalkan pekerjaannya untuk melihat keadaan anak-anak mereka.

Dan begitu sampai di bawah pohon rindang dimana mereka meletakkan kedua bayi mereka, mereka pun tambah terkejut dan khawatir.

Ditempat itu tadinya ada dua orang bayi yang tidur bersebelahan. Namun sekarang hanya tinggal satu bayi yang sedang menagis ketakutan. Sementara di sisi bayi tersebut, yang semula tempat bayi lainnya tertidur, terlihat darah segar berceceran dimana-mana. Salah satu bayi telah hilang. Sepertinya dimakan serigala liar.

"Anakku...!!" seru kedua ibu tersebut serentak sambil mendekati bayi yang tengah menangis.

"Apa katamu, Paijem??  Bayi ini adalah anakku.." kata Painem.

"Bukan.. bayi ini adalah anakku.. Aku tadi meletakkan bayi ini di sebelah kanan, sedangkan engkau meletakkan bayimu di sebelah kiri.." kata Paijem.

"Tidak.. Bayiku lah yang di sebelah kanan, dan bayimu lah yang di sebelah kiri.. Anak ini adalah anakku.." kata Painem.

"Bukan!! Ini anakku!!" sahut Paijem.

"Anakku!!"

"Anakku!! Anakku!! Anakku!!"

"Ini anakkuu...!!"

Kedua ibu itu bertengkar memperebutkan anak yang sedang menangis. Dan karena keduanya sama-sama bersikeras bahwa anak tersebut adalah anaknya, maka mereka pun memutuskan untuk mengadukan kasus ini pada rajanya, yaitu Nabi Sulaiman AS.

***
Di balairung istana, tampak Nabi Sulaiman AS dan para penasehat sedang berfikir keras untuk memutuskan kasus ini secara adil. Tetapi tampaknya para penasehat itu sudah mulai purtus asa. Mereka tidak punya petunjuk tentang siapa ibu yang sebenarnya dari si bayi.

Nabi Sulaiman AS tampak merenung. Dipejamkannya sebentar matanya, lalu berdo'a di dalam hati kepada Allah SWT. "Wahai Tuhanku Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui, berilah petunjuk kepada kami agar semua ini dapat diselesaikan dengan baik. Sesungguhnya hanya kepada-Mu lah kami berserah diri dan hanya kepada-Mu lah kami memohon petunjuk.."

"Ibu Paijem, saya tanyakan sekali lagi,, Benarkah bayi ini adalah anakmu?? Tolong kau jawab dengan jujur, karena kebohongan adalah dosa dan dapat menimbulkan fitnah (malapetaka).." tanya Sang Raja.

"Bayi ini adalaha anak hamba, Paduka Raja.. Hamba tidak berbohong Yang Mulia.. Anak ini adalah benar-benar anak hamba.." jawab Paijem.

"Bagaimana denganmu, Ibu Painem?? Benarkah bayi ini adalah anakkmu??  Tolong kau jawab dengan jujur, karena kebohongan adalah dosa dan dapat menimbulkan fitnah (malapetaka).." tanya Sang Raja kepada Painem.

"Sungguh hamba tidak berbohong, Yang Mulia.. Bayi ini memang sebenarnya adalah anak hamba." jawab Painem.

Nabi Sulaiman menatap para penasehatnya. Tetapi mereka hanya dapat menggeleng dengan putus asa..

"Baiklah.. Aku tanyakan untuk terakhir kalinya kepada kalian berdua.. Apakah bayi ini benar-benar anakmu?? Bukan anak kawanmu??" tanya Sang Raja.

"Bayi ini benar-benar anak hamba, Yang Mulia.."  jawab Paijem dan Painem bersamaan..

Sang Raja pun kemudian memanggil seorang pelayannya untuk mempersiapkan sebuah meja besar di hadapan mereka. Lalu si bayi diletakkan melintang ditengah-tengah meja.

"Sesungguhnya aku adalah nabi dan rasul Allah!! Aku telah menyampaikan perintah kepada kalian untuk menyembah Allah. Dia lah Tuhanku, dan Dia lah Tuhan kalian. Dan sesungguhnya Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana." Sabda Sang Nabi.

Kemudian Nabi Sulaiman AS menghunus pedangnya, dan mendekati bayi yang sudah diletakkan di atas meja.

"Dan sebagai raja kalian, aku diharuskan untuk berlaku adil. Dan karena tidak ada seorang pun diantara kalian yang tidak mengakui bahwa bayi ini bukan anaknya, maka akan kubelah bayi ini menjadi dua.. Setengah untukmu wahai Ibu Paijem, dan setengah lagi untukmu, wahai Ibu Painem.." lanjut Sang Nabi.

Semua yang hadir di situ terkejut. Termasuk para penasehat raja. Mereka semakin bingung. Apakah sang raja sudah gila??
Bukankah selama ini beliau berhati lembut?? Bahkan kepada semut pun beliau tidak ingin menyakiti.. Beliau pernah lebih memilih menghentikan sementara perjalanan pasukannya di hutan dari pada menginjak-injak sekelompok semut si tengah jalan..
Tapi sekarang?? Mengapa Sang Nabi menjadi begitu kejam?? Bahkan kepada seorang bayi tanpa dosa, yang lemah dan tidak berdaya.. Sang Nabi hendak membelahnya menjadi dua!! Apakah ini sungguh-sungguh??

Begitulah yang ada di benak mereka..

Nabi Sulaiman perlahan mengangkat pedangnya..
Orang-orang mulai menjerit..  Bahkan banyak yang menangis karena tak kuasa menyaksikan "kegilaan"  dan "kekejaman" rajanya..

Sesaat sebelum pedang itu dia ayunkan, dia bertanya kepada kedua ibu yang tengah memperebutkan bayi tersebut, "Apakah kalian menerima dengan apa yang aku putuskan?"

"Wahai Yang Mulia Raja.. Sungguh benar-benar adil dan bijaksanya dirimu.. Aku menerima keputusanmu yang adil, wahai Rajaku.." jawab Painem dengan mata berbinar-binar.

"Bagaimana denganmu, Ibu Paijem??"

"Wahai Nabi Allah.. Sungguh hamba tidak akan pernah ikhlas menerima apa yang akan engkau perbuat pada anak itu.. Hamba lebih ikhlas sekiranya bayi itu di pelihara oleh bu Painem.. Hancur hati hamba jika berpisah dengan buah hati hamba.. Namun hal itu lebih baik daripada menyaksikannya mati terbelah jadi dua dihadapan hamba, ya Rasul Allah.." jawab Paijem dengan sedih dan berurai air mata.

Sang Nabi tersenyum. Kemudian dimasukkannya kembali pedangnya ke sarungnya.
Kemudian beliau bersabda, "Tidak ada seorang ibu pun yang akan tega melihat bayinya mati terbunuh di hadapannya. Maka dengarkanlah keputusan rajamu ini. Aku putuskan menyerahkan bayi ini kepadamu, ibu Paijem. Karena engkaulah ibu yang sebenarnya dari bayi ini. Segera kembalilah kerumahmu dan rawatlah anakmu ini dengan baik. Semoga kelak dia jadi anak yang Soleh dan berbakti.."

Kedua ibu tersebut kembali terkejut mendengar keputusan raja mereka.

Paijem terlihat sangat bahagia dan berkali-kali mengucapkan syukur kepada Allah.
kemudian dia pun menggendong bayinya, memohon diri untuk kembali kerumahnya..

Tinggallah Painem yang terduduk lesu. Kebohongannya selama ini telah terbongkar. Dan hukuman berat dipastikan tengah menantinya. Matanya tertunduk, hatinya sedih dan malu.. Ia tak kuasa menahan air matanya yang menetes.

Nabi Sulaiman memandangnya dengan tatapan lembut..
"Mengapa kau melakukan ini semua, wahai Ibu Painem??" tanyanya.

"Duhai Yang Mulia, sesungguhnya selama ini hamba memang telah berbohong.. Hamba melakukan ini semua karena takut akan membuat suami hamba bersedih dan marah kepada hamba..." jawab Painem.

"Kau tahu hukumannya jika berbohong dihadapan rajamu?? Apalagi sampai berbuat zolim kepada saudarimu??" tanya Sang Nabi.

"Nasi telah menjadi bubur, Yang Mulia.. Seberat apapun hukuman yang hendak Paduka jatuhkan kepada hamba, hamba akan rela menjalaninya.." jawab Painem sambil terisak.

"Baiklah.. Karena itu sudah menjadi tanggungjawabmu, maka dengarkanlah hukuman yang dijatuhkan rajamu ini kepadamu. Hukuman yang kuberikan kepadamu adalah perintahku kepadamu untuk kembali ke rumahmu, menceritakan dan mengakui semuanya kepada suamimu, meminta maaf kepadanya, berjanji untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan menyampaikan salamku kepada suamimu. InsyaAllah dia dapat mengerti menerima semuanya. Dan aku berdo'a semoga Allah secepatnya mengganti anakmu yang dimakan srigala liar dengan anak yang sholeh dan berbakti. Itulah hukuman yang kujatuhkan kepadamu. Sekarang laksanakan perintahku tersebut.." kata Sang Nabi.

Painem terbengong-bengong mendengar sabda rajanya. Bukan hukuman berat yang dijatuhkan kepadanya, melainkan perintah untuk pulang, mengakui kesalahan, meminta maaf kepada suaminya, dan berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta menyampaikan salam Sang Raja..
Bahkan dia dido'akan agar secepatnya mendapat anak yang sholeh dan berbakti.. Dia di do'akan oleh Nabi Sulaiman AS.. Oleh kekasih Allah SWT!!

Dengan berurai airmata Painem berlutut dihadapan Nabi Sulaiman dan berkata, "Wahai Rasul Allah.. Sungguh lembut dan bijaksana hatimu, duhai rajaku.. Hukuman yang kau jatuhkan kepadaku adalah berkah karena salam dan do'amu, wahai Sang Nabi.."

Kemudian Painem memohon diri dan beranjak pulang ke rumahnya untuk menjalankan "hukuman" yang telah dijatuhkan kepadanya.

Kasus itu pun ditutup dan dinyatakan sudah selesai.


Note :
Cerita ini saya sadur dari cerita tentang Nabi Sulaiman yang pernah saya baca.

11 komentar:

Jejak Puisi 10 Februari 2012 pukul 22.40  

subhanallah... benar2 sungguh bijaksana nabi Allah Sulaiman a.s. trims sudah berbagi kisah ini meski ada gelinya juga... (nama ke2 ibu itu gimana... gitu... :D)

keep posting and sukses selalu y sob... :)

cindelaras 11 Februari 2012 pukul 15.00  

@jejak puisi : hehehee...
aku sengaja pakai nama2 yang lebih "familiar" di telinga kita.. habisnya selain Maryam / Mariyam, aku ga tahu lagi nama2 wanita bani Israil.. XD
terimakasih ya.. :)

tanggo 13 Februari 2012 pukul 10.29  

hahaha....ane suka ceritaNya cui....yg lebih ane suka lgi sikap bijak Nabi Sulaiman AS....yg begitu lembut....

zhi cun lee 14 Februari 2012 pukul 11.32  

articles of interest ... appropriate for us as Muslims musings ....

bulir permata 14 Februari 2012 pukul 11.35  

This is a very good article .. Thank you .. have a great day!.! happy blogging ...

Dofollow + + 14 Februari 2012 pukul 11.36  

free Backlink exchange

arie5758 14 Februari 2012 pukul 15.01  

Nabi Sulaiman memang terkenal sebagai nabi yang lemah lembut kepada semua makhluk. Semoga cerita diatas mampu memberikan pelajaran kepada kita semua.

Terima kasih sudah berbagi... Happy blogging :)

Penghuni 60 14 Februari 2012 pukul 15.24  

byk hal berharga yg bs dipetik dari ceritamu ini sob..
^_^
saduranmu blh juga.
mf ya aku baru sempat mampir skrg

Unknown 14 Februari 2012 pukul 23.07  

cerita yg menginsafkn..

imanarsyad 15 Februari 2012 pukul 08.16  

nama-namanya kok beda hahah

cindelaras 16 Februari 2012 pukul 12.10  

@spenza : terimakasih sudah baca tulisanku, ya... :D

@anton : klo suka, silakan baca cerpen2ku yang lain, mas... :D
terimakasih kunjungannya... :D

@zhi : thank you for visiting my site and reading my article.. :D

@dofollow : OOT :(

@arie : terimakasih kembali... happy bloging..

@penghuni60 : terimakasih juga sudah berkunjung, kawan... :D

@azek : terimakasih, kawan... :D

@imanarsyad : habisnya aku ga tau nama asli mereka siapa.. dan sengaja aku buat supaya lebih familiar di telingakita..
heheehee...

Posting Komentar

boleh copy-paste, namun mohon sertakan link langsung ke sumber postingannya. :)



Stats


Google PageRank Checker